APRIL Asia
APRIL Asia

Keberhasilan APRIL Indonesia menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terkemuka di dunia tak lepas dari kemampuannya dalam menjaga suplai bahan baku. Terkait hal tersebut, langkah APRIL patut diapresiasi. Mereka mampu menghasilkan bibit akasia sebanyak 150 juta buah per tahun untuk memutar roda produksinya.

Skala bisnis APRIL Group tergambar dari kapasitas produksinya. Per tahun, mereka sanggup memproduksi pulp sebanyak 2,8 juta ton. Untuk kertas, dalam kurun waktu yang sama, APRIL mampu membuat 1,15 juta ton.

Produk-produk itu kemudian didistribusikan oleh APRIL Asia ke berbagai negara di dunia. Namun, dari semuanya, sebagian besar produk pulp dan kertas dipasarkan di kawasan Asia Pasifik. Setelah itu ada pula yang disebar ke negara-negara di Uni Eropa, Amerika Selatan, serta Amerika Utara.

APRIL Indonesia sudah lama memegang komitmen untuk menolak praktik deforestasi. Mereka melakukannya sejak 15 Mei 2015 ketika mengumumkan peluncuran Kebijakan APRIL dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0 (Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0). Penerapan SFMP 2.0 dengan penambahan kriteria tersebut memastikan bahan baku APRIL lepas dari rantai deforestasi.

Untuk memastikan suplai bahan baku, APRIL mencukupi kebutuhannya dari perkebunannya sendiri. Bersama dengan para pemasok jangka panjang, APRIL mengelola hutan tanaman industri seluas 927.390 hektare.

Dari total luas hutan tanaman industri, APRIL Asia menyiapkan lahan seluas 481.466 hektare untuk dikelolanya bersama 40 mitra pemasok jangka panjang di Sumatera. Pengelolaan perkebunan tersebut mampu memenuhi sekitar 79 persen dari total kebutuhan fiber yang diperlukan oleh APRIL. Sisa kebutuhan lainnya didapat dari para mitra pemasok jangka pendek yang ada di Sumatera, Kalimantan, maupun Malaysia.

Di dalam perkebunannya, APRIL Group menanam tanaman yang cocok sebagai bahan baku pulp dan kertas. Mereka memilih akasia maupun eukaliptus.

Ada beragam alasan yang membuat tanaman itu dipilih. Akasia misalnya. Tanaman ini dinilai memiliki serat yang cocok untuk kertas. Selain itu, akasia juga cocok dengan iklim tropis. Jika ditanam di Indonesia, akasia bisa dipanen dalam kurun waktu lima hingga enam tahun. Kondisinya berbeda jika ditanam di kawasan subtropis. Akasia baru dapat diambil kayunya dalam 25 tahun.

Dua keuntungan itu sejatinya sudah membuat akasia layak ditanam sebagai bahan baku pulp dan kertas. Namun, ada kelebihan lain yang membuatnya makin menarik. Akasia ternyata berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah. Tanaman ini juga mudah beradaptasi di beragam kondisi sehingga bisa ditanam di dataran tinggi maupun rendah.

Agar suplai bahan baku terus terpenuhi, kuncinya adalah perkebunan yang baik. Tentu saja APRIL mengelola perkebunan dengan konsep berkelanjutan supaya terus lestari sepanjang masa.

Cara kerjanya APRIL Indonesia menyiapkan bibit akasia, menanamnya, serta merawatnya sedemikian rupa hingga panen. Sesudah masa panen, lahan kembali diolah sebelum ditanami ulang. Ini memastikan ketiadaan pembukaan lahan baru untuk perkebunan.

Untuk melakukannya, APRIL Group berinvestasi besar terhadap tim Research & Development (R&D). Di sana dikembangkan beragam langkah terbaik dalam pengelolaan perkebunan berbasis sains.

Dalam departemen R&D APRIL memang terdapat para ahli yang kompeten. Mereka memperkejakan 160 orang tenaga ahli profesional. Dari semuanya, 15 orang di antaranya memegang lulusan tingkat doktoral.

Supaya kerja tim R&D maksimal, APRIL Group membuat sebuah fasilitas penelitian canggih di Pangkalan Kerinci, Riau. Pusat R&D itu bertanggung jawab untuk melakukan penelitian kehutanan dan manajemen pembibitan di seluruh empat unit bisnis sera, yakni Riau Fibre, Indra Fibre, Kampar Fibre dan Dumai Fibre. Program penelitian serat ini berfokus kepada peningkatan produktivitas serat untuk mencapai produksi yang lebih baik dan lebih berkesinambungan.

Secara rinci, pusat R&D APRIL memiliki tiga laboratorium dengan kemampuan berbeda-beda. Pertama adalah Lab Tanah. Di sini para ahli menganalisis campuran hara tanah serta menghasilkan berbagai indikator seperti berapa banyak pupuk yang dibutuhkan.

Lab berikutnya adalah Lab Kultur Jaringan. Di dalamnya merupakan wadah bagi para ahli untuk proses kloning material genetik berperforma tinggi untuk mengembangkan produk unggulan. Dengan kata lain, para ahli mencari cara kerja yang melibatkan duplikasi sifat pohon individu yang unggul untuk peningkatan kualitas secara konsisten.

Sementara itu, laboratium terakhir ialah Lab NIRA (Analisis Pantulan Sinar Infra Merah/Near Infrared Reflective Analysis). Di dalam laboratorium ini, para ahli dari R&D APRIL menganalisis dan memprediksi tingkat pertumbuhan pohon, kerapatan dasar, serta hasil pulp.

MENGEMBANGKAN BIBIT TERBAIK

The Fascinating World of Forestry
The Fascinating World of Forestry

Pekerjaan kompleks yang dilaksanakan oleh tim R&D APRIL ini bertujuan untuk peningkatan kemampuan produksi. Mereka berusaha untuk menghasilkan bubur kertas dengan kualitas yang lebih baik, melakukan penghematan energi, serta menemukan bibit yang lebih tahan terhadap ancaman hama dan penyakit.

Untuk mencapai tujuan tersebut, APRIL mengembangkan rekayasa genetika untuk menghasilkan bibit akasia terbaik. Hasil pekerjaan mereka berperan penting bagi pembibitan beragam tanaman bahan baku pulp dan kertas milik APRIL.

Saat ini, APRIL Group memiliki pusat pembibitan di Pangkalan Kerinci, Baserah, Pelalawan, serta beberapa pembibitan satelit (satelite nursery) di berbagai wilayah. Mereka semua mampu mendukung upaya APRIL dalam menghasilkan 15 juta bibit per tahun.

Untuk menghasilkan bibit, terdapat sejumlah tanaman induk. Di pusat pembibitan Pangkalan Kerinci terdapat 1,2 juta pohon induk. Sementara itu, di Baserah dan Pelalawan masing-masing memiliki 800 pohon induk. Akibatnya jika ditotal, APRIL memiliki 2,8 juta pohon induk untuk pembibitan Akasia crassicarpa, Akasia mangium, dan eukaliptus.

Dengan memanfaatkan teknik cutting dan seedling, sejumlah bibit dihasilkan dari pengolahan pohon induk. Dalam proses pembibitan melalui teknik cutting, daun bibit distek agar menghasilkan kualitas genetik yang sama.

Teknik cutting dinilai memiliki keuntungan tersendiri. Kualitasnya bisa dikontrol. Hasil kayu yang dihasilkan lebih banyak dibanding bibit dari teknik seedling. Jumlahnya mencapai lima meter kubik per hektare setiap tahun.

Sesudah bibit dihasilkan, mereka ditanam di media tanam yang ada di area pembibitan. Proses perawatan bibit dilakukan melalui proses penyiraman dengan kabut air untuk menjaga kelembaban daun.

Ketika bibit memasuki usia lima hingga enam minggu sudah mulai dilakukan penjarangan dan pemilahan bibit berdasarkan ukuran. Bibit yang tumbuhnya tidak bagus akan disingkirkan. Baru setekah berumur sembilan hingga sepuluh minggu, bibit akasia siap ditanam di lapangan.

Proses ini terus diulang oleh APRIL Indonesia agar memastikan bahan baku terus tersedia. Selain itu, peningkatan produksi juga digapai. Berkat tim R&D, hasil perkebunan APRIL terus meningkat.

Sebagai gambaran, pada 1996, hasil perkebunan APRIL Group hanya 22 meter kubik per hektare. Namun, jumlah itu meningkat hingga mencapai 36 meter kubik pada 2010. Meski begitu, APRIL belum puas. Mereka masih mengincar target perkebunan menghasilkan 35 meter kubik per hektare pada 2020.

Dengan sistem yang mendasarkan kepada sains tersebut, tak mengherankan APRIL Indonesia mampu menghasilkan 15 juta bibit akasia per tahun. Berkat itu, mereka berkembang menjadi produsen pulp dan kertas terkemuka yang memegang prinsip berkelanjutan.